oleh

Pengembangan Desa Wisata Program Unggulan Untuk Masyrakat, Penyabar Nakhe : Anak Muda Perlu dilibatkan Dalam Pengembangan Desa Wisata

FONNA.ID, Gunungsitoli – Pengembangan desa wisata tengah gencar dilakukan di Indonesia belakangan ini. Banyak desa wisata baru mulai bermunculan terkhusus untuk di Desa Tumori, Desa Gada dan Desa Lolomoyo Tuhemberua Kecamatan Gunungsitoli Barat, Kota Gunungsitoli yang wajib dikembangkan menjadi sektor Pariwisata.

Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Dapil VIII Kepulauan Nias dari Fraksi PDI Perjuangan, Penyabar Nakhe berkomitmen untuk terus mengembangkan sumber daya manusia (SDM) dengan cara memajukan sektor pariwisata, adat dan budaya guna mewujudkan masyarakat desa yang produktif.

Selama ini pihaknya bersama pemerintah Kecamatan Gunungsitoli Barat, Pemerintah Desa telah membuat desa percontohan menuju desa wisata yakni Desa Tumori yang memiliki Rumah Adat tradisional, Desa Gada memiliki daerah Hutan dan Desa Lolomoyo Tuhemberua yang memiliki potensi rumah adat, sungai dan alam.

Kali ini, Penyabar Nakhe terus melakukan kolaborasi dan kerja sama dengan perkumpulan Hiduplah Indonesia Raya (HIDORA) yang bergerak dalam bidang kepariwisataan dari Banyuwangi yang nantinya akan mendampingi 3 desa di Kecamatan Gunungsitoli Barat (Desa Lolomoyo Tuhemberua, Desa Tumori, dan Desa Gada).

Pada kesempatan itu, Penyabar Nakhe memperkenalkan Komunitas Hiduplah Indonesia Raya (HIDORA) kepada pemerintah kecamatan Gunungsitoli Barat, pemerintah desa Tumori bersama dengan masyarakat desa Tumori, Senin (13/09/2021).

“Kita ingin membangun SDM di desa ini khususnya di bidang kepariwisataan, budaya dan adat. Hari ini telah hadir bersama kita saudara-saudara kita dari HIDORA yang akan melakukan pendampingan dan juga pelatihan kepada masyarakat desa tentang tata cara mengembangkan potensi desa dan UMKM di desa,” Ucap Penyabar Nakhe.

Dia melanjutkan dalam mengembangkan Desa Wisata perlu dilibatkan Anak Muda yg ada di desa, tanpa peran dari para anak muda di desa, perubahan dan pengembangan yang hendak dilakukan tidak akan terjadi. “anak muda harus dilibatkan. Sudah turun langsung ke lapangan, desa yang kreatif dan maju penggeraknya adalah anak muda,”

Dijelaskannya bahwa selama ini pihak HIDORA telah melakukan survei di Gunungsitoli Barat terkait potensi yang ada di masing-masing desa sehingga sebagai tindak lanjut dari kegiatan itu, pihak HIDORA akan tinggal di desa guna memantapkan rencana pelaksanaan pelatihan kepada masyarakat.

“Guna meningkatkan produktifitas, masyarakat akan dilatih tata cara yang baik dan benar saat menjadi tuan rumah desa wisata, desa adat dan budaya. Sehingga dengan demikian desa kita akan terkesan ramah dan dapat dikunjungi oleh siapa saja tamu-tamu dari luar daerah. Dan ini dipastikan akan memengaruhi peningkatan pendapatan masyarakat. Dan tentunya hal ini akan tercapai apabila adanya kerja sama dari seluruh pihak. Baik pemerintah maupun masyarakatnya terutama anak muda,” tambahnya.

ditempat yang sama, Camat Gunungsitoli Barat, Arianto Zega, S.E,M.M mengapresiasi langkah konsisten dan komitmen dari Wakil Rakyat Penyabar Nakhe yang menurut dia, tetap komitmen mengembangkan bidang pariwisata di kepulauan Nias.

“Dirinya mengakui bahwa 3 desa di Gunungsitoli Barat memiliki potensi menjadi desa wisata bahkan hasil survey dan masterplan telah selesai dan hal tersebut merupakan dorongan dari DPRD Provinsi Drs. Penyabar Nakhe dan Juga pemerintah desa serta masyarakat”

“Saya sangat berharap bahwa apa yang telah menjadi rancangan dalam grand desain ini nantinya bisa segera terwujud. Saya optimis, karena adanya kolaborasi yang baik antara masyarakat, Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, konsultan HIDORA, Pemerintah Kota Gunungsitoli, dan dukungan dari legislatif kota Gunungsitoli maupun provinsi.,” sebut Arianto.

Sementara dalam sambutannya, pihak HIDORA menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan yang terbaik selagi diberikan kesempatan oleh pemerintah dan masyarakat.

“Proses membangun desa wisata memerlukan beberapa tahapan, survey dan mapping yang benar, dengan terjun ke lapangan, menggali data, informasi, serta masukan dari masyarakat. Itulah bahan kami dalam riset dan kajian untuk merencanakan dan merancang grand desain yang kami tuangkan dalam dokumen ini. Namun rancangan ini tak akan berjalan, bila tidak dilakukan proses pendampingan masyarakat, tahap demi tahap, sampai masyarakat mampu mengelola desa wisata secara mandiri dan berkelanjutan.,” sebut Andri dari komunitas HIDORA.

Saat itu Andri menyebutkan bahwa pihaknya akan terus melakukan yang terbaik dalam menunjang peningkatan sumber daya manusia di desa Tumori sebagai salah satu desa Adat di kecamatan Gunungsitoli Barat kota Gunungsitoli. Ucapnya

Red/Kurniaman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed